You are on page 1of 16

Archimedes & Nicoulaus copernicus

ARCHIMEDES

Archimedes dari Syracusa (sekitar 287 SM - 212 SM) Ia belajar di kota Alexandria, Mesir. Pada waktu itu yang menjadi raja di Sirakusa adalah Hieron II, sahabat Archimedes. Archimedes sendiri adalah seorang matematikawan, astronom, filsuf, fisikawan, dan insinyur berbangsa Yunani. Ia dibunuh oleh seorang prajurit Romawi pada penjarahan kota Syracusa, meskipun ada perintah dari jendral Romawi, Marcellus bahwa ia tak boleh dilukai. Sebagian sejarahwan matematika memandang Archimedes sebagai salah satu matematikawan terbesar sejarah, mungkin bersama-sama Newton dan Gauss.

Hukum Archimedes
Pada suatu hari Archimedes dimintai Raja Hieron II untuk menyelidiki apakah mahkota emasnya dicampuri perak atau tidak. Archimedes memikirkan masalah ini dengan sungguh-sungguh. Hingga ia merasa sangat letih dan menceburkan dirinya dalam bak mandi umum penuh dengan air. Lalu, ia memperhatikan ada air yang tumpah ke lantai dan seketika itu pula ia menemukan jawabannya. Ia bangkit berdiri, dan berlari sepanjang jalan ke rumah dengan telanjang bulat. Setiba di rumah ia berteriak pada istrinya, "Eureka! Eureka!" yang artinya "sudah kutemukan! sudah kutemukan!" Lalu ia membuat hukum Archimedes. Dengan itu ia membuktikan bahwa mahkota raja dicampuri dengan perak. Tukang yang membuatnya dihukum mati.

Penerapan Hukum Archimedes


Anda tentunya sering melihat kapal yang berlayar di laut, benda-benda yang terapung di permukaan air, atau batuan-batuan yang tenggelam di dasar sungai. Konsep terapung, melayang, atau tenggelamnya suatu benda di dalam fluida, kali pertama diteliti oleh Archimedes. Menurut Archimedes, benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke dalam fluida, akan mengalami gaya ke atas. Besar gaya ke atas tersebut besarnya sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda. Secara matematis, Hukum Archimedes dituliskan sebagai berikut.

dengan: FA = gaya ke atas (N), f = massa jenis fluida (kg/m3), Vf = volume fluida yang dipindahkan (m3), dan g = percepatan gravitasi (m/s2). Dapat dilihat bahwa besarnya gaya ke atas yang dialami benda di dalam fluida bergantung pada massa jenis fluida, volume fluida yang dipindahkan, dan percepatan gravitasi Bumi. Anda telah mengetahui bahwa suatu benda yang berada di dalam fluida dapat terapung, melayang, atau tenggelam, berikut uraiannya. a. Terapung Benda yang dicelupkan ke dalam fluida akan terapung jika massa jenis benda lebih kecil daripada massa jenis fluida (b < f). Massa jenis benda yang terapung dalam fluida memenuhi persamaan berikut.

atau

dengan: Vbf = volume benda yang tercelup dalam fluida (m3), Vb = volume benda (m3), hbf = tinggi benda yang tercelup dalam fluida (m), hb = tinggi benda (m), b = massa jenis benda (kg/m3), dan f = massa jenis fluida (kg/m3).

Gambar 7.13 Balok kayu bervolume 100 cm3 dimasukkan ke dalam air. Sebuah balok kayu ( = 0,6 kg/m3) bermassa 60 g dan volume 100 cm3dimasukkan ke dalam air. Ternyata, 60 cm3 kayu tenggelam sehingga volume air yang dipindahkan sebesar 60 cm 3 ( 0,6 N ). b. Melayang Benda yang dicelupkan ke dalam fluida akan melayang jika massa jenis benda sama dengan massa jenis fluida (b= f). Dapatkah Anda memberikan contoh benda-benda yang melayang di dalam zat cair? c. Tenggelam Benda yang dicelupkan ke dalam fluida akan tenggelam jika massa jenis benda lebih besar daripada massa jenis fluida (b > f). Jika benda yang dapat tenggelam dalam fluida ditimbang di dalam fluida tersebut, berat benda akan menjadi

atau

dengan: wbf = berat benda dalam fluida (N), dan w = berat benda di udara (N).

Gambar 7.14 (a) Balok aluminium dengan volume 100 cm 3 di udara. (b) Balok aluminium dengan volume 100 cm3 ditimbang di dalam air Apakah beratnya sama? Perhatikanlah Gambar 7.14. Aluminium ( = 2,7 g/cm3) yang bermassa 270 g dan memiliki volume 100 cm3, ditimbang di udara. Berat aluminium tersebut sebesar 2,7 N. Ketika penimbangan dilakukan di dalam air, volume air yang dipindahkan adalah 100 cm 3 dan menyebabkan berat air yang dipindahkan sebesar 1 N (m = V dan w = mg). Dengan demikian, gaya ke atas FA yang dialami aluminium sama dengan berat air yang dipindahkan, yaitu sebesar 1 N. Berat aluminium di dalam air menjadi wbf = w FA = 2,7 N 1 N = 1,7 N Contoh soal penerapan hukum Archemedes 1. Sebuah batu memiliki berat 30 N Jika ditimbang di udara. Jika batu tersebut ditimbang di dalam air beratnya = 21 N. Jika massa jenis air adalah 1 g/cm3, tentukanlah:

a. gaya ke atas yang diterima batu, b. volume batu, dan c. massa jenis batu tersebut. Jawab Diketahui: w = 30 N, wbf = 21 N, dan air = 1 g/cm3.

air = 1 g/cm3 = 1.000 kg/m3 a. wbf = w FA 21 N = 30 N FA FA = 9 N b. FA = airVbatu g 9 N = (1.000 kg/m3) (Vbatu) (10 m/s2) Vbatu = 9 104 m3 c.

2. Sebuah bola logam padat seberat 20 N diikatkan pada seutas kawat dan dicelupkan ke dalam minyak ( minyak = 0,8 g/cm3). Jika massa jenis logam 5 g/cm 3, berapakah tegangan kawat? Jawab

Diketahui: wbola = 20 N, minyak = 0,8 g/cm3, dan logam = 5 g/cm3. Berdasarkan uraian gaya-gaya yang bekerja pada bola, dapat dituliskan persamaan T + FA = w T = w FA = w minyakVbola g

T = 16,8 N.

Aplikasi Hukum Archimedes Hukum Archimedes banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya pada hidrometer, kapal laut, kapal selam, balon udara, dan galangan kapal. Berikut ini prinsip kerja alat-alat tersebut.

A. Hukum Archimedes pada Hidrometer

Gambar 7.15 Hidrometer Hidrometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur massa jenis zat cair. Proses pengukuran massa jenis zat cair menggunakan hidrometer dilakukan dengan cara memasukkan hidrometer ke dalam zat cair tersebut. Angka yang ditunjukkan oleh hidrometer telah dikalibrasi sehingga akan menunjukkan nilai massa jenis zat cair yang diukur. Berikut ini prinsip kerja hidrometer. Gaya ke atas = berat hidrometer FA = whidrometer 1V1 g = mg Oleh karena volume fluida yang dipindahkan oleh hidrometer sama dengan luas tangkai hidrometer dikalikan dengan tinggi yang tercelup maka dapat dituliskan 1 (Ah1) = m

dengan: m = massa hidrometer (kg), A = luas tangkai (m2),

hf = tinggi hidrometer yang tercelup dalam zat cair (m), dan f = massa jenis zat cair (kg/m3). Hidrometer digunakan untuk memeriksa muatan akumulator mobil dengan cara membenamkan hidrometer ke dalam larutan asam akumulator. Massa jenis asam untuk muatan akumulator penuh kira-kira = 1,25 kg/m 3 dan mendekati 1 kg/m3 untuk muatan akumulator kosong. B. Kapal Laut dan Kapal Selam Mengapa kapal yang terbuat dari baja dapat terapung di laut? Peristiwa ini berhubungan dengan gaya apung yang dihasilkan oleh kapal baja tersebut. Perhatikan Gambar 7.16 berikut.

Gambar 7.16 Kapal yang sama pada saat kosong dan penuh muatan. Volume air yang di pindahkan oleh kapal ditandai dengan tenggelamnya kapal hingga batas garis yang ditunjukkan oleh tanda panah. Balok besi yang dicelupkan ke dalam air akan tenggelam, sedangkan balok besi yang sama jika dibentuk menyerupai perahu akan terapung. Hal ini disebabkan oleh jumlah fluida yang dipindahkan besi yang berbentuk perahu lebih besar daripada jumlah fluida yang dipindahkan balok besi. Besarnya gaya angkat yang dihasilkan perahu besi sebanding dengan volume perahu yang tercelup dan volume fluida yang dipindahkannya. Apabila gaya angkat yang dihasilkan sama besar dengan berat perahu maka perahu akan terapung. Oleh karena itu, kapal baja didesain cukup lebar agar dapat memindahkan volume fluida yang sama besar dengan berat kapal itu sendiri.

Gambar 7.17 Penampang kapal selam ketika (a) terapung, (b) melayang, dan (c) tenggelam. Tahukah Anda apa yang menyebabkan kapal selam dapat terapung, melayang, dan menyelam? Kapal selam memiliki tangki pemberat di dalam lambungnya yang berfungsi mengatur kapal selam agar dapat terapung, melayang, atau tenggelam. Untuk menyelam, kapal selam mengisi tangki pemberatnya dengan air sehingga berat kapal selam akan lebih besar daripada volume air yang dipindahkannya. Akibatnya, kapal selam akan tenggelam. Sebaliknya, jika tangki pemberat terisi penuh dengan udara (air laut dipompakan keluar dari tangki pemberat), berat kapal selam akan lebih kecil daripada volume kecil yang dipindahkannya sehingga kapal selam akan terapung. Agar dapat bergerak di bawah permukaan air laut dan melayang, jumlah air laut yang dimasukkan ke dalam tangki pemberat disesuaikan dengan jumlah air laut yang dipindahkannya pada kedalaman yang diinginkan. C. Balon Udara Balon berisi udara panas kali pertama diterbangkan pada tanggal 21 November 1783. Udara panas dalam balon memberikan gaya angkat karena udara panas di dalam balon lebih ringan daripada udara di luar balon. Balon udara bekerja berdasarkan prinsip Hukum Archimedes. Menurut prinsip ini, dapat dinyatakan bahwa sebuah benda yang dikelilingi udara akan mengalami gaya angkat yang besarnya sama dengan volume udara yang dipindahkan oleh benda tersebut.

Gambar 7.18 Balon udara dapat mengambang di udara karena memanfaatkan prinsip Hukum Archimedes.

NICOLAUS COPERNICUS

Niklas Koppernigk (latin: Nicolaus Copernicus; bahasa Polandia Mikoaj Kopernik; lahir di Toru, 19 Februari 1473 meninggal di Frombork, 24 Mei 1543 pada umur 70 tahun) adalah seorang astronom, matematikawan, dan ekonom berkebangsaan Polandia, yang mengembangkan teori heliosentrisme (berpusat di matahari) Tata Surya dalam bentuk yang terperinci, sehingga teori tersebut bermanfaat bagi sains. Ia juga seorang kanon gereja, gubernur dan administrator, hakim, astrolog, dan tabib. Teorinya tentang Matahari sebagai pusat Tata Surya, yang menjungkirbalikkan teori geosentris tradisional (yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta) dianggap sebagai salah satu penemuan yang terpenting sepanjang masa, dan merupakan titik mula fundamental bagi astronomi modern dan sains modern (teori ini menimbulkan revolusi ilmiah). Teorinya memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia lainnya. Universitas Nicolaus Copernicus di Torun, didirikan tahun 1945, dinamai untuk menghormatinya.

Pendidikan Nicolaus dimulai di kampung halamannya, tetapi belakangan dilanjutkan di Chemno yang tidak jauh dari situ. Di sana ia belajar bahasa Latin dan mempelajari karya para penulis kuno. Pada usia 18 tahun, ia pindah ke Krakw, ibukota Polandia saat itu. Di kota ini ia kuliah di universitas dan mengajar dan mengejar hasratnya akan astronomi. Setelah ia menyelesaikan pendidikannya di Krakw, paman dari Nikolaus yang pada waktu itu telah menjadi uskup di Warmia memintanya untuk pindah ke Frombork, sebuah kota di Laut Baltik. Waczenrode ingin kemenakannya menduduki jabatan staf katedral. Akan tetapi, Nicolaus yang berusia 23 tahun ingin memuaskan dahaganya akan pengetahuan dan berhasil membujuk pamannya untuk mengizinkan dia mempelajari hukum gereja, kedokteran, dan matematika di berbagai universitas di Bologna dan Padua, Italia. Di sana, Nicolaus bergabung dengan astronom Domenico Maria Novara dan filsuf Pietro Pomponazzi. Sejarawan Stanisaw Brzostkiewicz mengatakan bahwa ajaran Pomponazzi telah "membebaskan pikiran astronom muda ini dari cengkraman ideologi abad pertengahan". Di waktu senggangnya, Copernicus mempelajari karya para astronom zaman dahulu, menjadi begitu larut dalam karya tersebut sampai-sampai ketika ia mengetahui karya Latin itu tidak lengkap, ia mempelajari bahasa Yunani agar dapat meneliti naskah aslinya. Pada akhir pendidikannya, Nicolaus telah menjadi doktor hukum gereja, matematikawan, dan dokter. Ia juga pakar bahasa Yunani, menjadi orang pertama yang menerjemahkan sebuah dokumen dari bahasa Yunani langsung ke bahasa Polandia. Pekerjaannya yang beragam tidaklah mengacaukan Copernicus yang jenius dari pemikiran utama dalam hidupnya. Menara Heilsberg di Allenstein dan di Frauenburg sering kali menjadi tempat-tempat pengamatan, dan pekerjaan besarnya "Dalam Revolusi Tubuh Luar Angkasa" menjadi bukti bagi pengamatannya yang bersemangat atas matahari, bulan, dan planet-planet.

Melalui Uskup Paul dari Fossombrone, mereka dimintai pendapatnya tentang pembaruan penanggalan gerejawi. Jawabannya adalah, bahwa lamanya masa satu tahun dan bulan serta pergerakan dari matahari serta bulan belum cukup diketahui untuk membuat suatu pembaruan. Namun, kejadian itu mendorongnya untuk menulis surat kepada Paul III, untuk membuat pengamatan yang lebih akurat. Tujuh puluh tahun kemudian, hal ini diterima sebagai dasar dari cara kerja penanggalan Gregorian.Dua puluh lima tahun setelah kariernya di universitas, Copernicus berhasil menyelesaikan pekerjaan besarnya, setidaknya di dalam pemikirannya sendiri, setelah ia menahan rasa bimbangnya untuk jangka waktu yang lama, apakah akan menerbitkannya atau meniru para penganut Pythagoreans, yang mengirimkan misteri dari filosofi mereka hanya secara lisan kepada pengikutnya sendiri karena takut mendapat penghinaan dari orang banyak. Teman-temannya yang tertarik dengan teori baru, membujuknya untuk menulis. Setidaknya, sebuah gambaran abstrak bagi mereka, yaitu salinan-salinan naskah asli yang kemudian ditemukan di Vienna (1873) dan Stockholm (1878). Dalam komentarnya, Copernicus menyatakan bahwa dalam teorinya ada tujuh axioma, yang menggunakan rumus matematika pada prinsip kerjanya. Ini terjadi pada tahun 1531, atau dua belas tahun sebelum kematiannya. Dari sini, doktrin dari sistem heliosentris mulai menyebar. Pada tahun 1533, Albert Widmanstadt mengajar di hadapan Paus Clement VII mengenai sistem tata surya yang ditemukan Copernicus. Sayangnya, hal itu terhambat oleh pertentangan besar dari orang-orang yang menolak sistem temuan Copernicus. Akhirnya, hanya bab dari trigonometri yang dicetak (1542). Dua salinan dari "Narasi Pertama" dan risalah dari trigonometri, yang diberikan Rheticus kepada temannya Dr. Gasser, kemudian dipraktekkan dalam ilmu kedokteran di Fieldkirch. Menelurkan teori yang revolusioner Sepulangnya ke Polandia, pamannya melantik dia sebagai sekretaris, penasihat, dan dokter pribadinya suatu kedudukan yang bergengsi. Selama puluhan tahun berikutnya, Nicolaus menjabat berbagai kedudukan administratif, baik di bidang agama maupun sipil. Meski sangat sibuk, ia melanjutkan penelitiannya tentang bintang dan planet, mengumpulkan bukti untuk mendukung suatu teori yang revolusioner bahwa bumi bukan pusat yang tidak bergerak dari alam semesta tetapi, sebenarnya, bergerak mengitari matahari. Teori ini bertentangan dengan ajaran filsuf yang terpandang, Aristoteles, dan tidak sejalan dengan

kesimpulan matematikawan Yunani, Ptolemeus. Selain itu, teori Copernicus menyangkal apa yang dianggap sebagai "fakta" bahwa Matahari terbit di timur dan bergerak melintasi angkasa untuk terbenam di barat, sedangkan bumi tetap tidak bergerak. Nicolaus Copernicus adalah pencentus teori Heliosentris yaitu sebuah teori yang berhubungan tentang orbit dan rotasi bumi. Nicolaus Copernicus sebagai seorang ilmuwan memberi atribut yang sangat penting dalam dunia ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang astronomi. Gagasannya tentang teori Heliosentris menghapus pendapat kuno yang mengatakan bahwa bumi adalah pusat tata surya dimana bintang, matahari dan benda-benda lain berputar mengelilingi bumi. Teori purba ini dikenal dengan istilah teori geosentris. Sebagai pencetus teori heliosentris, Nicolaus copernicus memang tidak seterkenal Galileo, Kepler ataupun Newton. Karena Nicolaus Copernicus enggan menerbitkan teori Heliosentris yang dicetuskannya. Baru setelah Nicolaus Copernicus wafat, ilmuwan lain seperti yang tersebut diatas secara luas mempublikasikan teori tersebut meski harus bertentangan dengan pihak gereja yang menganut paham Geosentris. Dalam astronomi, heliosentrisme adalah teori yang berpendapat bahwa Matahari bersifat stasioner dan berada pada pusat alam semesta. Kata berasal dari bahasa Yunani ( Helios = Matahari, dan kentron = pusat). Secara historis, heliosentrisme bertentangan dengan geosentrisme, yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta. Diskusi mengenai kemungkinan heliosentrisme terjadi sejak zaman klasik. Barulah ketika abad ke-16 dapat ditemukan suatu model matematis dapat meramalkan secara lengkap sistem heliosentris, yaitu Nicolaus Copernicus, seorang ahli matematika dan astronom. Pada abad berikutnya, model tersebut dijabarkan dan diperluas oleh Johannes Kepler dan pengamatan pendukung dengan menggunakan teleskop diberikan oleh Galileo Galilei.

Copernicus bukanlah orang yang pertama yang menyimpulkan bahwa bumi berputar mengitari Matahari. Astronom Yunani Aristarkhus dari Samos telah mengemukakan teori ini pada abad ketiga Sebelum Masehi. Para pengikut Pythagoras telah mengajarkan bahwa bumi serta Matahari bergerak mengitari suatu api pusat. Akan tetapi, Ptolemeus menulis bahwa jika bumi bergerak, "binatang dan benda lainnya akan bergelantungan di udara, dan bumi akan jatuh dari langit dengan sangat cepat". Ia menambahkan, "sekadar memikirkan hal-hal itu saja terlihat konyol".

Ptolemeus mendukung gagasan Aristoteles bahwa bumi tidak bergerak di pusat alam semesta dan dikelilingi oleh serangkaian bola bening yang saling bertumpukan, dan bola-bola itu tertancap Matahari, planet-planet, dan bintang-bintang. Ia menganggap bahwa pergerakan bola-bola bening inilah yang menggerakan planet dan bintang. Rumus matematika Ptolemeus menjelaskan, dengan akurasi hingga taraf tertentu, pergerakan planet-planet di langit malam. Namun, kelemahan teori Ptolemeus itulah yang mendorong Copernicus untuk mencari penjelasan alternatif atas pergerakan yang aneh dari planet-planet. Untuk menopang teorinya, Kopernikus merekonstruksi peralatan yang digunakan oleh para astronom zaman dahulu. Walaupun sederhana dibandingkan dengan standar modern, peralatan ini memungkinkan dia menghitung jarak relatif antara planet-planet dan Matahari. Selama bertahun-tahun, ia berupaya menetukan secara persis tanggal-tanggal manakala para pendahulunya telah membuat beberapa pengamatan penting di bidang astronomi. Diperlengkapi dengan data ini, Copernicus mulai mengerjakan dokumen kontroversial yang menyatakan bahwa bumi dan manusia di dalamnya bukanlah pusat alam semesta. Nicolaus Copernicus - Penemu teori Heliosentrisme Tata Surya Semasa hidupnya, Copernicus dikenal sebagai seorang astronom, matematikawan dan juga ekonom. Teorinya tentang Matahari sebagai pusat Tata Surya, yang berhasil menjungkirbalikkan teori geosentris tradisional (yang menempatkan Bumi di Pusat Alam Semesta), dianggap sebagai salah satu penemuan yang terpenting sepanjang masa dan merupakan titik mula fundamental bagi astronomi modern dan sains modern. Pada awalnya teori Heliosentrisme dari Copernicus ini menuai kontroversi. Teori ini bertentangan dengan ajaran filsuf yang terpandang, Aristoteles, dan tidak sejalan dengan kesimpulan matematikawan Yunani, Ptolemeus. Teori Copernicus menyangkal apa yang dianggap sebagai fakta oleh Aristoteles dan Ptolomeus bahwa matahari terbit di timur dan bergerak melintasi angkasa untuk terbenam di barat, sedangkan bumi tetap tidak bergerak. Namun, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teori Copernicus ini telah merevolusionerkan konsep tentang angkasa luar dan sekaligus merombak pandangan filosofis manusia terhadap ilmu astronomi. Dewasa ini Copernicus disanjung oleh banyak orang sebagai Bapak Astronomi Modern.

Selama berada di Italia, Copernicus sudah berkenalan dengan ide-ide filosof Yunani Aristarchus dari Samos (abad ke-13 SM). Filosof ini berpendapat bahwa bumi dan planitplanit lain berputar mengitari matahari. Copernicus jadi yakin atas kebenaran hipotesa "heliocentris" ini, dan tatkala dia menginjak usia empat puluh tahun dia mulai mengedarkan buah tulisannya diantara teman-temannya dalam bentuk tulisan-tulisan ringkas, mengedepankan cikal bakal gagasannya sendiri tentang masalah itu. Copernicus memerlukan waktu bertahun-tahun melakukan pengamatan, perhitungan cermat yang diperlukan untuk penyusunan buku besarnya De Revolutionibus Orbium Coelestium (Tentang Revolusi Bulatan Benda-benda Langit), yang melukiskan teorinya secara terperinci dan mengedepankan pembuktian-pembuktiannya. Copernicus memutuskan penerbitan bukunya, dan baru tepat pada saat meninggalnya dia dikirimi buku cetakan pertamanya dari si penerbit. Ini tanggal 24 Mei 1543. Dalam buku itu Copernicus dengan tepat mengatakan bahwa bumi berputar pada porosnya, bahwa bulan berputar mengelilingi matahari dan bumi, serta planet-planet lain semuanya berputar mengelilingi matahari. Tapi, seperti halnya para pendahulunya, dia membuat perhitungan yang serampangan mengenai skala peredaran planet mengelilingi matahari. Juga, dia membuat kekeliruan besar karena dia yakin betul bahwa orbit mengandung lingkaranlingkaran. Jadi, bukan saja teori ini ruwet secara matematik, tapi juga tidak betul. Meski begitu, bukunya lekas mendapat perhatian besar. Para astronom lain pun tergugah, terutama astronom berkebangsaan Denmark, Tycho Brahe, yang melakukan pengamatan lebih teliti dan tepat terhadap gerakan-gerakan planet. Dari data-data hasil pengamatan inilah yang membikin Johannes Kepler akhirnya mampu merumuskan hukum-hukum gerak planet yang tepat. Meski Aristarchus lebih dari tujuh belas abad lamanya sebelum Copernicus sudah mengemukakan persoalan-persoalan menyangkut hipotesa peredaran benda-benda langit, adalah layak menganggap Copernicuslah orang yang memperoleh penghargaan besar. Sebab, betapapun Aristarchus sudah mengedepankan pelbagai masalah yang mengandung inspirasi, namun dia tak pernah merumuskan teori yang cukup terperinci sehingga punya manfaat dari kacamata ilmiah. Tatkala Copernicus menggarap perhitungan matematik hipotesa-hipotesa secara terperinci, dia berhasil mengubahnya menjadi teori ilmiah yang punya arti dan guna. Dapat digunakan untuk dugaan-dugaan, dapat dibuktikan dengan pengamatan astronomis,

dapat bermanfaat di banding lain-lain teori yang terdahulu bahwa dunialah yang jadi sentral ruang angkasa.