You are on page 1of 9

LAPORAN FURNACE

SEBAGAI TUGAS MATA KULIAH


FABRIKASI DAN KARAKTERISASI MATERIAL

Disusun oleh :
Mohamad Nur Arifin
M0213058

PROGRAM STUDI FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebutuhan

teknologi

yang

semakin

maju,

menuntut

berkembangnya sistem kendali yang handal. Sistem kendali yang baik


sangat diperlukan dalam meningkatkan efisiensi dalam proses produksi.
Sebagai contoh, otomatisasi dalam bidang industri yaitu proses pemanasan
pada Furnace.
Sehingga pada tanggal tanggal 31 Mei 2016 dilakukan kunjungan
Laboratorium Pusat UNS dan Laboratorium Material F.MIPA UNS dengan
tujuan agar mahasiswa lebih mengenal dan mengetahui peralatan yang
berhubungan dengan fabrikasi dan karakterisasi material serta mengetahui
karakteristik dari masing-masing alat yang ada di laboratorium tersebut.
Alat-alat yang dikenalkan kepada mahasiswa antara lain furnace, XRD,
microhardness, nanosurf, sputtering dan evaporator. Pada kesempatan ini,
penulis akan lebih detail membahas tentang furnace. Dimana dalam
kunjungan lab tersebut terdapat dua jenis (merk) yang dikenalkan yaitu
furnace Nobertherm dan furnace Neytech.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana gambaran umum furnace?
2. Bagaimana karakteristik dan prinsip kerja furnace?
3. Apa saja bagian-bagian furnace?
4. Bagaimana pemanfaatan dan penggunaan furnace yang benar?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Furnace

Furnace atau tungku merupakan sebuah peralatan (device) yang


digunakan untuk melelehkan logam untuk pembuatan bagian mesin
(casting). Furnace juga digunakan untuk memanaskan bahan serta
mengubah bentuknya (misalnya penggulungan/rolling, penempaan) atau
merubah sifat-sifatnya (perlakuan panas). Dengan kata lain, furnace
merupakan proses pemanasan yang bertujuan untuk menghilangkan
kandungan air serta sisa pelarut dalam lapisan secara bertahap.
Berdasarkan metode penghasilan panas, furnace secara luas
diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu furnace jenis pembakaran
(menggunakan bahan bakar) dan furnace jenis listrik. Furnace jenis
pembakaran bergantung pada jenis bahan bakar yang digunakan.
Diantaranya furnace yang menggunakan bahan bakar minyak, batu bara,
atau gas.
Berdasarkan modus pengisian tungku bahan, furnace dapat
diklasifikasikan menjadi furnace jenis Intermittent atau furnace berkala
dan furnace continous atau terus menerus.
Berdasarkan modus pemanfaatan kembali limbah panas sebagai
furnace recuperative dan regeneratif. Tipe lain dari klasifikasi furnace
dibuat berdasarkan modus perpindahan panas, cara pengisian dan modus
pemanfaatan panas.
B. Karakteristik Furnace
Furnace harus dirancang sedemikian rupa sehingga dalam waktu
tertentu, sebanyak mungkin bahan dapat dipanaskan sampai suhu merata
dengan bahan bakar paling mungkin dan tenaga kerja. Untuk mencapai
tujuan ini, parameter berikut dapat dipertimbangkan.
Penentuan jumlah panas yang akan didistribusikan kepada materi

atau biaya.
Pelepasan panas yang cukup dalam furnace untuk memanaskan

bahan dan mengatasi semua kerugian panas.


Transfer panas dari furnace ke permukaan bahan.
Persamaan suhu dalam bahan.

Pengurangan kerugian panas dari tungku seminimal mungkin.

Prinsip kerja dari dari furnace listrik adalah memanaskan bahan


sampel dengan memasukkan dalam ruang pemanas. Panas pada
termokopel berasal dari filament yang diberi tegangan sehingga akan
menimbulkan panas yang menyebabkan sensor suhu dapat

bekerja.

Filament yang biasa digunakan terbuat dari nikel karena memiliki titik
leleh tinggi. Panas akan merambat secara radiasi menuju sampel. Beberapa
furnace memiliki control waktu yang dimanfaatkan untuk mengubah suhu
pemanasan secara otomatis. Dinding bagian dalam furnace didesain tahan
terhadap suhu tinggi dengan menggunakan bahan alumina. Sensor suhu di
dalam furnace berupa termokopel.

Gambar 1. Bagian dalam furnace

Termokopel adalah perangkat yang terdiri dari dua konduktor yang


berbeda (biasanya paduan logam) yang menghasilkan tegangan, sebanding
dengan perbedaan suhu antara kedua ujung konduktor. Termokopel banyak
digunakan sebagai jenis sensor suhu untuk pengukuran dan kontrol serta
dapat juga digunakan untuk mengubah gradien temperatur menjadi listrik.

Termokopel biasanya memakai suhu standar untuk suhu referensi 0 derajat


Celcius.

Gambar 2. Rangkaian Termokopel

C. Bagian-bagian Furnace
Di dalam furnace terdapat berbagai bagian yaitu :
1. Pemanas berupa elemen-elemen berbentuk pir dan terdapat
sensornya berapa suhu yang diinginkan akan tercatat secara
manual.
2. Termokouple / sensor suhu
Termokopel adalah perangkat yang terdiri dari dua konduktor
yang berbeda (biasanya paduan logam) yang menghasilkan
tegangan, sebanding dengan perbedaan suhu antara kedua ujung
konduktor. Termokopel banyak digunakan sebagai jenis sensor
suhu untuk pengukuran dan kontrol serta dapat
untuk

mengubah

gradien

temperatur

jugadigunakan

menjadi

listrik.

Termokopelbiasanya memakai suhu standar untuk suhu

referensi

0 derajat Celcius
3. Ada lubang, saat ingin memanasi agar tidak terkontaminasi
biasanya diberi tabung kuarsa. Karena ada proses pembakaran
terdapat asap hasil pembakaran seperti H2O, CO2 dll
4. Alumina
Pada bagian tubuh furnace ini terdapat alumina yang
menyebabkan sampel tidak terbakar. Alumina memiliki melting
point yang tinggi, lebih dari 10000C. Alumina diperoleh dari
bauksit NaOH) pada temparatur 2400C. Dengan memanaskan
aluminium

trioksida

(Al(OH)3)

hingga

kira-kira

1300 0C

(diendapkan), akan didapat alumina. Dengan reaksi sebagai


berikut: 2 Al(OH)3 (l) Al2O3(l) + 3H2O(g)
Alumina merupakan satu dari bahan kimia oksida yang
dikenal paling stabil. Bahan ini secara mekanis sangat kuat, tidak
dapat larut dalam air, steam lewatjenuh, dan hampir semua asam
inorganik

dan

alkali.

Sifatnya

membuatnya

cocok

untuk

pembentukan wadah tempat melebur logam untuk fusi sodium


karbonat, sodium hidroksida dan sodium peroksida. Bahan ini
memiliki tahanan tinggi dalam oksidasi dan reduksi pada kondisi
atmosfir. Alumina digunakan dalam industri dengan proses panas.
Alumina yang sangat berpori digunakan untukmelapisi tungku
dengan suhu operasi sampai mencapai 18500C.
D. Pemanfaatan Furnace
Pemanfaatan

furnace

pada

fabrikasi

kaca

adalah

dengan

memanaskan material atau bahan kaca, kemudian melakukan pendinginan


secara cepat. Hal ini dilakukan agar bahan yang dipanaskan memiliki
struktur amorf. Struktur amorf terjadi ketika bahan yang diberi suhu tinggi
kemudian didinginkan secara cepat, agar struktur atom dalam bahan tidak
sempat berubah menjadi Kristal.

Pengoprasian furnace harus hati-hati agar furnace tidak cepat rusak.


Setelah furnace selesai digunakan tidak dibenarkan untuk mematikan
langsung alat ketika suhu masih sangat tinggi. Ini akan mengakibatkan
putusnya filament-filamen pemanas karena di shutdown secara tiba-tiba.
Penggunaan yang tepat adalah, ketika furnace selesai di gunakan,
suhu furnace dibiarkan turun secara alami mencapai suhu kamar. Barulah
kemudian alat dapat dimatikan.

Gambar 3. Furnace Thermoline

Gambar 4. Furnace Neytech


Pada furnace Nobertherm dapat mengatur kenaikan suhu selang

waktu tertentu. Furnace Neytech bisa bergerak secara otomatis naik turun,
dihubungkan dengan komputer yang tidak dapat digunakan untuk sampel
organik. Untuk kedua furnace ini suhu yang digunakan sebaiknya jangan
sampai menggunakan 11000C biasanya batasnya hanya sampai 9000C. Pada
furnace Nobertherm misalnya mulai mengatur pada suhu ruang 30 0C
biasanya pada superkonduktor, lalu menginginkan suhu akhir 100 0C
kemudian ditahan selama beberapa jam. Selama proses dari suhu 300C -

1000C dapat mengatur heating rate atau kecepatan pemanasan sesuai yang
diinginkan tergantung sample ( ada yang cepat dan ada yang diperlambat ).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Furnace merupakan proses pemanasan yang bertujuan untuk
menghilangkan kandungan air serta sisa pelarut dalam lapisan secara
bertahap. Prinsip kerja furnace adalah memanaskan

sample dengan

memasukkan ke dalam ruang pemanas yang didalamnya terdapat filamenfilamen pemanas, termokouple dan alumina. Filamen-filamen

pemanas

tersebut diberi tegangan sehingga menimbulkan panas yang menyebabkan

termokouple/sensor suhu dapat bekerja. Panas yang dihasilkan tersebut


merambat secara radiasi menuju sampel. Dinding furnace diberi alumina
agar tahan terhadap suhu tinggi dan sampel tidak terbakar. Suhu yang
diperbolehkan dalam proses pemanasa adalah hanya sampai 9000C

dan

tidak boleh melebihi suhu maksimal yaitu 11000C.

Daftar Pustaka
Indra. P., Sumardi., Iwan. S. Pengendalian. 2009. Temperature pada Plant Electric
Furnace Mengunakan Sensor Thermocouple dengan Metode Fuzzy.
Makalah seminar Tugas Akhir : Universitas Diponegoro.
Mukti. Kusnanto. 2013. Laporan Furnace (ebook). Surakarta : Universitas Sebelas
Maret