You are on page 1of 1

Shindy Retyang Puspita 3208100065

Arsitektursepertinya sulit sekali untuk menterjemahkan, bahkan memahami kata ini. Begitu kompleksnya pengertian arsitektur, hingga hampir semua sudut pandang yang dikemukakan oleh para ahli, bahkan khalayak umum dapat dibenarkan. Menurut Frank Lloyd Wright, "Architecture is that great living creative spirit which from generation to generation, from age to age, proceeds, persists, creates, according to the nature of man, and his circumstances as they change". Sedangkan, menurut Vitruvius, dalam buku De Architectura yang merupakan karya tulis rujukan paling tua yang ditulis Vitruvius, diungkapkan bahwa bangunan yang baik haruslah memiliki aspek:

Keindahan / Estetika (Venusitas) Kekuatan (Firmitas) Kegunaan / Fungsi (Utilitas)

Semua pemikiran pemikiran tersebut semuanya benar. Frank Lloyd Wright mengartikan dan memahami arsitektur bukan sebagai suatu kata yang diartikan dan dirinci pengertiannya. Ia memaknai kata arsitektur dengan sudut pandangnya sendiri. Ia memaknainya sebagai sesuatu yang hidup yang bisa dirasakan, yang memiliki dampak lebih dari segi fisik, tapi psikis. Frank seperti mem-personifikasi-kan kata arsitektur tersebut. Sedangkan, Vitruvius, mengartikan kata arsitektur sebagai sebuah kata yang dirinci pengertiannya hingga mengemukakan beberapa aspek dalam ber-arsitektur, seperti firmitas, venustas, dan utilitas. Pemahaman tentang arsitektur sebenarnya lebih dari sekedar apa arti arsitektur. Pada dasarnya, memang, arsitektur dibentuk untuk melayani manusia, baik dari segi fungsional maupun non-fungsional. If architecture doesnt think about the human needs, then what? Namun, pemahaman tersebut sedikit membuat saya bertanya dalam hati, apakah hanya untuk manusia? Apakah bumi hanya diperuntukkan bagi manusia? Tentu jawabannya, Tidak. Architecture is created to serve living creatures. Arsitektur, seharusnya, diciptakan untuk seluruh makhluk hidup, termasuk cacing yang ada di dalam tanah, bahkan lumut yang melekat pada batu karena bumi juga diciptakan untuk mereka. Arsitektur haruslah mampu mengubah yang buruk menjadi baik, dalam hal ini seperti mengubah barang bekas menjadi sebuah karya arsitektur dan bahkan mengubah pola hidup buruk pengguna menjadi baik. Arsitektur haruslah tidak membunuh, ia seharusnya menumbuhkan sesuatu yang bermanfaat, contoh paling mudah seperti, tidak menebang pohon demi sebuah gambar denah. Seharusnya gambar tersebut tidak mematikan makhluk hidup. Seorang arsitek harus mampu memaknai kata arsitektur sebagai sesuatu yang hidup, yang memiliki tujuan, dan yang nantinya akan membawa dampak bagi pengguna ataupun penikmatnya. Jika arah pikiran kita untuk memandang suatu arsitektur dengan berpikir tentang apa tujuan arsitektur, bukan tentang bagaimana wujud arsitektur, mungkin karya yang akan dihasilkan akan menjadi sebuah karya yang membawa dampak positif bagi pengguna dan penikmatnya, bukan sebuah karya yang hanya membuat pengguna dan penikmat menjadi sakit badan dan pikiran.
http://www.forumdesain.com/showthread.php?t=88 http://archipeddy.com/ess/term_ars.html