You are on page 1of 10

ARCHIPELAGIC STATE PRINCIPLE

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah


Hukum Internasional

Nama : Mochammad Noval Ardiansyah


Kelas : Semester IIIC
NPM : 1610631010128

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG
2017
1

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Negara bagaikan suatu organisme maksudnya adalah bahwa negara tidak bisa hidup
sendiri tanpa adanya negara lain. Keberlangsungan hidupnya ikut dipengaruhi juga oleh
negara-negara lain, terutama negara-negara tetangganya atau negara yang berada dalam satu
kawasan dengannya. Banyak faktor yang melatarbelakangi negara yang satu sangat
bergantung atau memerlukan hubungan kerja sama dengan negara lainnya. Salah satunya
adalah oleh karena faktor kebutuhan negara itu sendiri. Seperti yang sudah di jelaskan
sebelumnya,bahwa negara bagaikan suatu organisme, maka dengan adanya kerja sama
tersebut diharapkan segala kebutuhan itu dapat terpenuhi. Akibatnya nanti juga sangat
berpengaruh terhadap hubungan antara negara- negara tersebut kearah yang lebih baik dan
lebih harmonis. Namun,terkadang dalam mencapai suatu tujuan tersebut konflik juga tak
dapat terhindarkan. Penyebabya adalah ada satu negara yang lebih mementingkan
kepentingan sepihak dari negaranya.

Sebagai negara yang saling berbatasan territorial maka, salah satu masalah sentral
yang sangat rentan untuk memicu terjadinya konflik adalah masalah teritorial. Masalah
tersebut menjadi sangat sensitif karena menyangkut kedaulatan sebuah negara. Tak jarang
persengketaan tersebut meningkatkan ketegangan diantara negara-negara yang terlibat
persengketaan dan bahkan memicu terjadinya konflik bersenjata yang mengakibatkan
kerugian pihak-pihak yang bersengketa.

Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar dan wilayah yang luas baik darat maupun
lautan memiliki tantangan tersendiri untuk menjaga keutuhan dan persatuan serta kesatuan
wilayahnya. Berbagai ancaman, hambatan, tantangan dan gangguan baik yang berasal dari
dalam negeri maupun luar negeri dapat mengancam keutuhan bangsa dan Negara Indonesia.
Hal yang berkaitan dengan konsep wawasan nusantara serta implementasinya salah satunya
mengenai persengketaan berkaitan dengan daerah perbatasan antar Negara. Indonesia
memiliki wilayah yang sangat luas yaitu tanah sekitar 1,937 juta km2, luas laut kedaulatan
3,1 juta km2, dan luas laut ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) 2,7 juta km2. Jarak dari barat ke
timur lebih panjang dari pada jarak antara London dan Siberia sebagaimana yang pernah
digambarkan oleh Multatuli. Indonesia merupakan kawasan kepulauan terbesar di dunia yang
terdiri dari sekitar 18.108 pulau besar dan kecil.

Termasuk dalam kawasan kepulauan ini adalah pulau-pulau besar seperti Sumatra,
Jawa, sekitar tiga perempat Borneo, Sulawesi, kepulauan Maluku dan pulau-pulau kecil di
sekitarnya, dan separoh bagian barat dari pulau Papua dan dihuni oleh ratusan suku
bangsa. Pulau-pulau ini terbentang dari timur ke barat sejauh 6.400 km dan sekitar 2.500 km
jarak antara utara dan selatan. Garis terluar yang mengelilingi wilayah Indonesia adalah
sepanjang kurang lebih 81,000 km dan sekitar 80 persen dari kawasan ini adalah laut. Jadi di
dalam daerah yang demikian luas ini terkandung keanekaragaman baik secara geografis, ras
2

maupun kultural yang seringkali menjadi kendala bagi proses integrasi nasional. Dengan
konstruksi kewilayahan yang semacam itu laut merupakan unsur yang dominan dalam sejarah
Indonesia.

Republik Indonesia mempunyai batas maritim dengan 10 negara tetangga yaitu


Australia, Timor Leste, Papua New Guinea (PNG), Palau, Filipina, Vietnam, Thailand,
Malaysia, Singapura dan India. Dalam penataan batas maritim dengan negara-negara
tetangga tersebut, menurut Konvensi Hukum Laut (UNCLOS) 1982, Indonesia berhak untuk
menetapkan batas-batas terluar dari berbagai zona maritim, dengan batas-batas maksimum
(dihitung dari garis pangkal atau garis dasar) yang ditetapkan sebagai berikut [Agoes,
2002]: laut teritorial (territorial sea), zona yang merupakan bagian dari wilayah negara
sebesar 12 mil laut, zona tambahan (contiguous zone), dimana negara memiliki yurisdiksi
khusus sebesar 24 mil laut, zona ekonomi eksklusif (ZEE), zona dimana negara memiliki
hak-hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber kekayaan alamnya di atas dasar laut sampai
permukaan laut serta pada dasar laut serta tanah di bawahnya sebesar 200 mil laut,
dan terakhir landas kontinen (continental shelf), zona dimana negara memiliki hak-hak
berdaulat untuk memanfaatkan sumber kekayaan alam pada dasar laut serta tanah di
bawahnya (antara 200 350 nm atau sampai dengan 100 nm dari isobath (kedalaman) 2500
meter).

Garis batas antara Indonesia dan negara-negara tersebut untuk setiap zona maritim
yang sudah ada, biasanya akan diberikan berupa daftar koordinat geodetik (lintang,bujur) dari
titik-titik batas. Namun demikian untuk informasi koordinat batas yang ada tersebut tidak
jelas menyebutkan datum geodetik (sistem referensi koordinat) nya. Ketidakjelasan tentang
datum geodetik dari titik-titik batas maritim Indonesia dengan negara-negara tetangga ini
perlu secepatnya dikaji dan dievaluasi sebelum timbul permasalahan kelak.

Hingga saat ini banyak negara menghadap persoalan perbatasan dengan tetangganya yang
belum terselesaikan lewat perundingan. Bahkan kebiasaan menunda penyelesaian masalah
justru menambah rumit persoalan. Beberapa persoalan perbatasan dan dispute territorial
yang cukup mengusik harmonisasi antar negara maupun ke-amanan kawasan.

Menyempitnya ruang dunia membuat aspek wilayah menjadi faktor yang makin penting
didalam pembentukan posisi kekuasaan maupun politik kekuasaan yang mampu menjamin
tegaknya kedaulatan, integritas wilayah serta kesatuan dan persatuan bangsa. Wawasan
nusantara sebagai cara pandang bangsa Indonesia, merupakan inti dasar budaya bangsa
Indonesia yang dilandasi oleh falsafah Pancasila serta kondisi dan posisi geografi wilayah
Indonesia yang menentukan pola pikir dan tata laku bangsa dalam mewujudkan kehidupan
nasional yang dikembangkan dengan menumbuhkan rasa tanggung jawab atas pemanfaatan
lingkungannya. Dilain pihak Wawasan Nusantara, sebagai konsepsi geo-politik bangsa dan
negara Indonesia dikembangkan untuk menegakkan kekuasaan guna melindungi kepentingan
nasional serta merentangkan hubungan internasional dalam upaya ikut menegakkan
ketertiban dunia.
3

BAB II

PEMBAHASAN
Klaim sepihak ( tindakan sepihak ) maksudnya bahwa suatu negara secara sepihak
mengumumkan/memproklamasikanatau ( dalam praktekya sering juga disebut sebagai
deklarasi ) penambahan wilayah negaranya kepada masyarakat internasional. Isi dari
pengumuman itu adalah memuat pernyataan keinginan dari suatu negara untuk menambah
luas wilayah negaranya. Pengumuman yang dikeluarkan oleh suatu negara untuk menambah
luas wilayah negaranya tersebut, tidak hanya terbatas pada wilayah yang tunduk dalam
kedaulatannya, akan tetapi juga wilayah yang tunduk di bawah yurisdiksi negara
bersangkutan.

Mengenai cara Indonesia memeperleh tambahan wilayah dengan klaim sepihak


adalah dengan dikeluarkannya Deklarasi Juanda 1957,yakni Indonesia mendapat tambahan
wilayah perairan yang dikenal dengan Perairan Nusantara atau dalam konteks Konvensi
Hukum Laut 1982 dikenal dengan istilah Perairan Kepulauan ( Archipelagic Waters ).1

Setelah Dewan Menteri pada malam tanggal 13 Desember 1957 bersidang untuk
memutuskan Pengumuman Pemerintah mengenai Wilayah Perairan Negara Republik
Indonesia, maka pada esok harinya pengumuman tersebut disebarluaskan melalui pers dan
radio baik di dalam maupun di luar negeri. Reaksi yang keras bisa diduga terutama berasal
dari luar negeri. Banyak komentar yang pedas melalui siaran radio dan pers ditujukan kepada
pemerintah RI. Bahkan mulai tanggal 30 Desember 1957 mengalir nota protes diplomatik
dari negara-negara maritim besar melalui Departemen Luar Negeri RI. Nota protes
diplomatik itu bersal dari Amerika Serikat (tanggal 30 Desember 1957), Inggris (3 Januari
1958), Australia (3 Januari 1958), Belanda (3 Januari 1958), Perancis (8 Januari 1958), dan
Selandia Baru (11 Januari 1958).2

Isi dari Deklarasi Juanda yang ditulis pada 13 Desember 1957, menyatakan:3

1. Bahwa Indonesia menyatakan sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak


tersendiri
2. Bahwa sejak dahulu kala kepulauan nusantara ini sudah merupakan satu kesatuan
3. Ketentuan ordonansi 1939 tentang Ordonansi, dapat memecah belah keutuhan wilayah
Indonesia dari deklarasi tersebut mengandung suatu tujuan :
a. Untuk mewujudkan bentuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan
bulat
b. Untuk menentukan batas-batas wilayah NKRI, sesuai dengan asas negara Kepulauan
c. Untuk mengatur lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan
keselamatan NKRI

1
R. Subekti & Tjitrosoedibio. Kamus Hukum. (Jakarta: Praduga Paramita 1989) hal 37
2
Widhi,Perjuangan Bangsa Indonesia Merebut,http://widhisejarahblog.blogspot.com/2010/09/perjuangan-bangsa-indonesia
merebut.html
3
Joy Setiawan,Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957, http://indonesiakemarin.blogspot.co.id/2009/05/deklarasi-
djuanda-13-desember-1957.html,11 Oktober 2017,pukul 08.18 WIB
4

Reaksi dan protes keras dari berbagai negara besar tersebut sudah diperhitungkan oleh
pemerintah Indonesia. Hal inipun sudah dicantumkan dalam pengumuman bahwa: Pendirian
pemerintah tersebut akan diperhatikan dalam konperensi internasional mengenai hak-hak atas
lautan yang akan diadakan dalam bulan Februari 1958 di Jenewa. Oleh sebab itu sebetulnya
Indonesia sudah siap mental menghadapi kecaman baik lewat media massa maupun lewat
nota protes diplomatik. Bahkan pemerintah Indonesia sudah siap berdebat dalam forum
internasional dalam Konperensi Hukum Laut Internasional di Jenewa tanggal 24 Februari
hingga 27 April 1958.4

Delegasi RI pada waktu itu diketuai oleh Mr. Ahmad Subardjo Djojohadisuryo, S.H. yang
pada waktu menjabat sebagai Duta Besar RI di Swiss. Anggota-anggota delegasi antara lain
Mr. Mochtar Kusumaatmadja, Goesti Moh. Chariji Kusuma, dan M. Pardi (Ketua Mahkamah
Pelayaran) sebagai wakil ketua. Dalam konperensi itu, delegasi Indonesia diberi kesempatan
untuk berpidato pada tanggl 7 Maret 1958. Dari pidato delegasi Indonesia inilah untuk
pertama kali mayarakat politik dan hukum internasional mendengar uraian mengenai
implementasi Archipalagic Principle atau asas archipelago terhadap suatu negara yang
melahirkan Archipelagic State Principle yang pada waktu itu masih asing bagi dunia karena
belum ada satupun negara di dunia yang mengimplementasikannya.

Setelah delegasi Indonesia menyampaikan pidatonya, muncullah reaksi yang keras dari para
peserta terutama dari negara-negara yang dulu pernah menyampaikan nota protes diplomatik
secara tertulis kepada pemerintah RI. Oleh karena protes ini dilakukan secara terbuka
sehingga seluruh peserta yang hadir dalam sidang itu menjadi mengetahui isi pidato yang
disampaikan oleh delegasi Indonesia. Salah satu kritikan pedas misalnya berasal dari ketua
delegasi Amerika Serikat yang mengatakan:

Now, for example, if you lump islands into archipelago and utilize a straight baseline system
connecting the outermost points of such islands and then draw a twelve-mile area around the
entire archipelago, you unilaterally attempt to convert or possibly even-internal waters, vast
area of the high seas formerly freely used for centuries by ships of all countries..by such an
act, the freedom of navigation would be seriously restricted. It would amount to the taking
of other persons property as the seas are held in common for the benefit of all people.

Oleh karena merupakan isu baru maka masih sangat sulit untuk mendapatkan
dukungan dari negara-negara para peserta konperensi. Pada waktu itu hanya negara Filipina,
Equador dan Yugoslavia saja yang bersimpati terhadap gagasan yang dimunculkan Indonesia.
Namun demikian delegasi Indonesia tidak putus asa dan terus melakukan pendekatan-
pendekatan terutama terhadap negara Asia dan Afrika dengan menggunakan isu semangat
solidaritas konferensi Bandung. Selain itu delegasi Indonesia juga menyebarluaskan
naskah The Indonesian Delegation to the Conference on the Law of the Sea yang antara lain
berisi terjemahan bahasa Inggris dari Pengumuman Pemerintah tanggal 13 Desember 1957.

4
Usmawadi dan Achmad Romsan, Hukum Internasional 1-Bagian Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas
Sriwijaya. (Palembang. Mei 2004)
5

Sedikit demi sedikit akhirnya banyak Negara yang mulai simpati teradap perjuangan
Indonesia.5

Untuk memperkuat kedudukan Pengumuman Pemerintah tanggal 13 Desember tersebut


dalam sistem hukum di Indonesia, maka selanjutnya pemerintah mengupayakan untuk
menetapkannya sebagai undang-undang. Pada tahun 1960 pengumuman tersebut dituangkan
dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPU) No. 4/ 1960. Produk
hukum inilah yang kemudian juga disampaikan pada Konverensi Hukum Laut PBB ke dua
yang diselenggarakan tahun 1960. Delegasi Indonesia yang kembali diketuai Mr. Ahmad
Soebardjo kembali menyampaikan Asas Negara Kepulauan dengan dasar hukum yang telah
pasti dalam sidang itu. Namun demikian sidang juga belum mau mengesahkan usulan
Indonesia.

Sementara itu di dalam negeri Indonesia sendiri konsep dan Asas Negara Kepulauan ini
terus digodog. Pada tahun 1962 Mr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H. menyelesaikan disertasi
di Universitas Padjadjaran Bandung dengan judulMasalah Lebar laut Territorial pada
Konverensi Hukum Laut Jenewa, 1958 dan 1960. Sementara itu pada tanggal 25 Juli 1962
Pemerintah menerbitkan PERPU No. 8/ 1962 mengenai Lalu-lintas Laut Damai (Innocent
Passage) Kapal Asing dalam Perairan Indonesia.6 Jadi dengan demikian meskipun secara
internasional implementasi asas kepulauan ke dalam tata hukum di Indonesia belum diakui,
tetapi koordinasi dan penyempurnaan di dalam negeri Indonesia terus dilakukan. Bahkan
ketika Belanda sudah mau menyerahkan Papua Barat kepada PBB (Perserikatan bangsa-
Bangsa) sebagai mediator pada tanggal 15 Agustus 1962 dan selanjutnya PBB menyerahkan
kepada RI pada tanggal 1 Mei 1963, pemerintah RI terus menyempurnakan implementasi
asas negara kepulauan dalam sistem hukum di Indonesia.7

Sejalan dengan semakin pentingnya posisi militer dalam perpolitikan di Indonesia setelah
kepemimpinan Orde Baru, maka pengembangan asas negara kepulauan untuk membangun
sistem pertahanan di Indonesia semakin jelas. Pada tanggal 12-21 November 1966
diselenggarakan Seminar Hankam (Pertahanan dan Keamanan) I yang berhasil merumuskan
Wawasan Nusantara yang merupakan pengembangan lebih rinci dari asas negara kepulauan.
Pengembangan Wawasan Nusantara di kalangan militer terus berjalan sehingga dalam Rapat
Kerja Hankam pada bulan November 1967 telah disepakati perwujuan Wawasan Nusantara
sebagai kesatuan wilayah, politik, ekonomi, sosio-kultural, dan Hankam. Bahkan dalam
periode berikutnya Wawasan Nusantara sebaai wawasan pembangunan menjadi salah satu
Ketetapam MPR sejak tahun 1973 hingga runtuhnya Orde baru. Dengan demikian kesatuan

5
Dimas, Convention on the Law of the
Sea,http://en.wikipedia.org/wiki/United_Nations_Convention_on_the_Law_of_the_Sea, diakses pada Selasa 10 Oktober
2017,pukul 16.49 WIB
6
Peraturan Perundang-Undangan Nomor 8 Tahun 1962 tentang Lalu-lintas Laut Damai (Innocent Passage) Kapal Asing
dalam Perairan Indonesia

7
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Nomor 4 Tahun 1960 dan diganti dengan Undang-Undang No.6 Tahun
1996 tentang Perairan Indonesia
6

wilayah tanah-air Indonesia tidak dapat ditawar-tawar lagi, konsep pulau-demi pulau
sebagaimana yang dikembangkan pada jaman kolonial Belanda tidak akan dapat dipakai lagi.

Dalam tataran internasional, Indonesia terus berjuang untuk memperoleh pengakuan


implementasi prinsip negara kepulauan yang diperjuangkan sejak Deklarasi Djuanda tahun
1957. Pada tahun 1971 Indonesia dipercaya menjadi salah satu anggota penuh Committee of
the Peaceful Uses of the Sea-Bed and Ocean Floor beyond the Limit of National
Jurisdiction yang merupakan badan PBB untuk mempersiapkan Konperensi Hukum Laut
PBB. Dengan menjadi anggota komite ini, Indonesia dapat lebih leluasa untuk
menyosialisasikan implementasi prinsip negara kepulauan sehingga secara internasional
semakin mendapat pengakuan. Selain itu untuk menunjukkan kepada dunia sikap kooperatif
Indonesia dengan negara tetangga maka serangkaian perjanjian bilateral dan multirateral
diadakan khususnnya mengenai perbatasan luat dengan negara tetangga seperti Malaysia
(1969), Singapura (1973), Thailand (1971), India (1974), dan Australia (1973). Perjanjian-
perjanjian itu sebetulnya menunjukkan secara tidak langsung bahwa negara-negara itu telah
mengakui prinsip negara kepulauan yang dianut oleh Indonesia.8

Selanjutnya pda tanggal 12 Maret 1980, dengan menggunakan dasar Hukum Laut
Internasional mengenai Economic Exclusive Zone Pemerintah Indonesia mengumumkan
Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEE) selebar 200 mil diukur dari garis dasar. Pada tahun
1983, pengumuman ini disahkan menjadi Undang-undang RI No. 5/ 1983. Akhirnya pada
Konvensi Hukum Laut Internasional pada tahun 1982 yang dihadiri oleh 160 negara telah
menyetujui berbagai konvensi termasuk yang diusulkan oleh Indonesia mengenai ZEE dan
prinsip negara kepulauan. Mengenai prinsip negara kepulauan dan ZEE dalam Konvensi
Hukum Laut Internasional itu ditetapkan.9

The convention set the definition of Archipelagic States in Part IV, which also define how
the state can draw its territorial borders. A baseline is drawn between the outermost points of
the outermost islands, subject to these points being sufficiently close to one another. All
waters inside this baseline is described as Archipelagic Waters and are included as part of the
states territory and territorial waters. This baseline is also used to chart its territorial waters
12 nautical miles from the baseline and EEZ 200 nautical miles from the baseline.10

Dengan demikian usaha Indonesia untuk melakukan dekolonisasi sistem hukum laut
kolonial sudah dapat tercapai pada tahun 1982. Proses dekolonisasi itu ternyata tidak hanya
harus berhadapan dengan kekuatan kolonial Belanda yang masih memiliki kepentingan di

8
Mike Head (2000-09-18). Documents reveal that Australia urged Indonesia to invade East Timor in 1975. World
Socialist Web Site

9
Fillah,Sengketa Perbatasan Antar Negarahttp://ukhtyfillah.blogspot.com/2008/03/sengketa-perbatasan-antar-negara-
di.html.,11-Oktober-2017,Pukul.16.14

10Landa Ratulangi,Dekolonisasi, http://www.reocities.com/landaratulangi/samrt91b.html ,11-Oktober-2017,Pukul 15.50


7

sebagian wilayah Indonesia tetapi juga harus berhadapan dengan kekuatan internasional yang
memiliki kepentingan yang beragam. Namun demikian berbagai tantangan itu justru
memprekondisikan proses dekolonisasi hukum laut Indonesia itu lebih cepat dari hukum-
hukum lainnya.
8

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Klaim sepihak ( tindakan sepihak ) maksudnya bahwa suatu negara secara sepihak
mengumumkan/memproklamasikanatau ( dalam praktekya sering juga disebut sebagai
deklarasi ) penambahan wilayah negaranya kepada masyarakat internasional. Isi dari
pengumuman itu adalah memuat pernyataan keinginan dari suatu negara untuk menambah
luas wilayah negaranya. Pengumuman yang dikeluarkan oleh suatu negara untuk menambah
luas wilayah negaranya tersebut, tidak hanya terbatas pada wilayah yang tunduk dalam
kedaulatannya, akan tetapi juga wilayah yang tunduk di bawah yurisdiksi negara
bersangkutan.
Mengenai cara Indonesia memeperleh tambahan wilayah dengan klaim sepihak
adalah dengan dikeluarkannya Deklarasi Juanda 1957,yakni Indonesia mendapat tambahan
wilayah perairan yang dikenal dengan Perairan Nusantara atau dalam konteks Konvensi
Hukum Laut 1982 dikenal dengan istilah Perairan Kepulauan ( Archipelagic Waters ).
Setelah Dewan Menteri pada malam tanggal 13 Desember 1957 bersidang untuk
memutuskan Pengumuman Pemerintah mengenai Wilayah Perairan Negara Republik
Indonesia, maka pada esok harinya pengumuman tersebut disebarluaskan melalui pers dan
radio baik di dalam maupun di luar negeri. Reaksi yang keras bisa diduga terutama berasal
dari luar negeri. Banyak komentar yang pedas melalui siaran radio dan pers ditujukan kepada
pemerintah RI. Bahkan mulai tanggal 30 Desember 1957 mengalir nota protes diplomatik
dari negara-negara maritim besar melalui Departemen Luar Negeri RI. Nota protes
diplomatik itu bersal dari Amerika Serikat (tanggal 30 Desember 1957), Inggris (3 Januari
1958), Australia (3 Januari 1958), Belanda (3 Januari 1958), Perancis (8 Januari 1958), dan
Selandia Baru (11 Januari 1958).

B. Saran
Sebagai sebuah bangsa yang besar dan wilayah yang luas baik darat maupun lautan
maka bangsa Indonesia memiliki tantangan tersendiri untuk menjaga keutuhan dan persatuan
serta kesatuan wilayahnya. Berbagai ancaman, hambatan, tantangan dan gangguan baik yang
berasal dari dalam negeri maupun luar negeri dapat mengancam keutuhan bangsa dan Negara
Indonesia. Untuk itu diperlukan dukungan dari semua pihak untuk bersma sama menjaga
keutuhan dan persatuan serta kesatuan wilayah tersebut.
Selain itu masyarakat Bangsa Indonesia bersama-sama dengan aparat penegak
hukumnya tetap bergandengan tangan memberikan dukungan, menjaga dan memelihara
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia supaya wilayah yang sudah menjadi bagian
dari Indonesia agar tidak sampai lepas ke tangan negara lain. Selain itu tetap memperhatikan
atau memberi perhatian khusus terhadap wilayah yang sulit dijangkau ( terutama wilayah
yang ada di daerah Timur Indonesia ) baik dari segi sarana dan prasarana.
9

DAFTAR PUSTAKA

1. Usmawadi dan Achmad Romsan, Hukum Internasional 1-Bagian Hukum


Internasional Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Palembang. Mei 2004
2. R. Subekti & Tjitrosoedibio. 1989. Kamus Hukum. Jakarta: Praduga Paramita.
3. Peraturan Perundang-Undangan Nomor 8 Tahun 1962 tentang Lalu-lintas Laut
Damai (Innocent Passage) Kapal Asing dalam Perairan Indonesia
4. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Nomor 4 Tahun 1960 dan diganti
dengan Undang-Undang No.6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia
5. http://widhisejarahblog.blogspot.com/2010/09/perjuangan-bangsa-indonesia
merebut.html
6. http://www.reocities.com/landaratulangi/samrt91b.html
7. http://ukhtyfillah.blogspot.com/2008/03/sengketa-perbatasan-antar-negara-di.html.
8. Usmawadi SH.,MH dan Achmad Romsan SH.,MH.,LLM, Hukum Internasional-
1,Bagian Hukum Internasionl Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Palembang,
Mei 2004, hal.42
9. http://en.wikipedia.org/wiki/United_Nations_Convention_on_the_Law_of_the_Sea,
diakses pada Rabu 12 Oktober 2011, Pukul 14.28 WIB
10. Mike Head (2000-09-18). Documents reveal that Australia urged Indonesia to invade
East Timor in 1975. World Socialist Web Site