You are on page 1of 6

Teori Bangunan Kapal

12. Metode Integrasi Numerik

a) Metode Trapezoidal
K. J. Rawson dan E. C. Tupper, “Basic Ship Theory”, Longman, London, 1983. pp 23
– 33. Dalam rumus-rumus di atas, untuk menghitung luas, volume, momen dll. kita memakai
integral suatu fungsi. Tetapi untuk bentuk badan kapal, fungsi yang dibutuhkan biasanya tidak
diketahui. Hal ini dapat diatasi dengan memakai integrasi numerik yang tidak membutuhkan
fungsi, tetapi membutuhkan hasil pengukuran, biasanya setengah lebar kapal dan/atau sarat.

 Rumus trapezoid :
garis lengkung didekati dengan beberapa potongan garis lurus.
Jika hanya dipakai 1 trapesium
dengan jarak ordinat h, luas
trapezium A menjadi

A  12 h( y 0  y1 )
Jika dipakai 2 trapesium dengan
jarak ordinat h yang sama, jumlah
luas trapezium A menjadi :

trapesium I: A0  12 h( y0  y1 )

trapesium II: A1  12 h( y1  y 2 )

Jumlah A  h( 12 y 0  y1  12 y 2 )
Jika dipakai banyak trapesium dengan jarak ordinat h yang sama untuk semua trapesium:
A  h( 12 y 0  y1  y 2  ...  12 y N )

 Rumus Simpson I

1
Disebut juga rumus 3 ordinat: garis lengkung didekati dengan beberapa potongan
parabola dengan bentuk persamaan y = ax2 + bx + c. Tiap potongan parabola mencakup 3
titik pada garis lengkung.
Untuk mudahnya diambil x0 = -h,
x1 = 0 dan x2 = h. Maka y0 = ax02
+ bx0 + c = ah2 – bh + c dan
seterusnya.

h
A   (ax 2  bx  c)dx 
h

1 3 1 2 2
ax  bx  cx | h h  ah 3  2ch
3 2 3

Misalkan luas dapat dinyatakan sebagai A = Ly0 + My1 + Ny2. Masukkan harga y0, y1 dan y2:
A  L( ah 2  bh  c)  Mc  N ( ah 2  bh  c) 
ah 2 ( L  N )  bh( L  N )  c( L  M  N )

Kedua luas ini harus sama besar, sehingga didapat 3 persamaan berikut:
2 3 2
o koefisien untuk a: h2 (L  N )  h LN  h
3 3
o koefisien untuk b: h(  L  N )  0   L  N  0

o koefisien untuk c: L  M  N  2h
1 4 1
Dari 3 persamaan ini didapat L  h, M  h, N h
3 3 3
Jika hanya dipakai 1 parabola dengan jarak ordinat h, luas parabola A menjadi
1
A h( y0  4 y1  y 2 )
3
Jika hanya dipakai 2 parabola dengan jarak ordinat h yang sama, jumlah luas parabola A
menjadi

2
1
parabola I: A0  h( y0  4 y1  y 2 )
3
1
parabola II: A1  h( y 2  4 y3  y 4 )
3
1
Jumlah A h( y 0  4 y1  2 y 2  4 y3  y 4 )
3
Jika dipakai banyak parabola dengan jarak ordinat h yang sama untuk semua parabola:
1
A h( y0  4 y1  2 y2  4 y3  ...  4 y n1  y n )
3

 Rumus Simpson II
Disebut juga rumus 4 ordinat: garis lengkung didekati dengan beberapa potongan
polinom pangkat 3 dengan bentuk persamaan y = ax3 + bx2 + cx + d. Tiap potongan
parabola mencakup 4 titik pada garis lengkung.
Jika hanya dipakai 1 polinom
pangkat 3 dengan jarak ordinat h,
luas polinom A menjadi
3
A h( y0  3 y1  3 y 2  y3 )
8
Jika hanya dipakai 2 polinom
pangkat 3 dengan jarak ordinat h
yang sama, jumlah luas polinom
A menjadi
polinom I:

3
A0  h( y0  3 y1  3 y 2  y3 )
8
3
polinom II: A1  h ( y 3  3 y 4  3 y5  y 6 )
8
3
Jumlah A h( y0  3 y1  3 y 2  2 y3  3 y 4  3 y5  y6 )
8
Dalam rumus-rumus di atas, dihitung luas gambar yang dibatasi oleh kurva, sumbu
koordinat dan ordinat-ordinat ujung. Jika ingin dihitung luas gambar bagian kiri atau kanan
saja, maka kita pakai
Rumus Simpson III
Dipakai untuk menghitung luas bagian kiri atau kanan kurva ( Bagian sisa ), maka kita pakai
atau rumus 5,8,-1: garis lengkung didekati dengan sebuah potongan parabola dengan bentuk
persamaan y = ax2 + bx + c.
3
Parabola mencakup 3 titik pada garis lengkung.
1
Luas bagian kiri saja adalah AKIRI  h(5 y0  8 y1  y 2 )
12
1
Luas bagian kanan saja adalah AKANAN  h( y0  8 y1  5 y 2 )
12

Contoh Soal :

4
5
6